Kamis, 25 Juni 2009

Mengapa Remaja Perlu Konseling Tentang Seksualitas ?


Mengapa Remaja Perlu Konseling Tentang Seksualitas ?

Salah satu masalah besar yang dihadapi oleh remaja adalah penyesuaian terhadap perubahan hormon reproduksi yang sudah mulai berfungsi. Setelah mendapatkan pengalaman pertama dalam hal menstruasi untuk yang perempuan dan mimpi basah untuk yang laki-laki. Selain itu juga keingintahuan yang besar terhadap hal-hal yang berbau seks dan kengintahuan tentang cara untuk menyalurkan dorongan seks ketika lagi ‘bete’ ( birahi tinggi ). Karena seksualitas masih dianggap tabu oleh sebagian besar masyarakat kita, maka remaja seringkali mencari informasi seputar seksualitas dari sumber-sumber yang seringkali menyesatkan seperti dari ‘tabloid biru’, buku-buku stensilan, majalah porno dan lain sebagainya. Sumber-sumber yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya ini ternyata menimbulkan berbagai macam mitos seputra seksualitas di kalangan remaja, seperti kalau hubungan seks hanya sekali tidak akan mengakibatkan kehamilan, dorongan seks laki-laki lebih besar daripada dorongan seks perempuan, dan sebagainya. Data konseling di Lentera Sahaja PKBI DIY, dari tahun 1987 sampai dengan sekarang menunjukkan bahwa permasalahan yang berkaitan dengan seksualitas baik itu masalah pacaran, pilihan perilaku seksual, serta kasus kehamilan yang tidak diinginkan, dari tahun ke tahun ternyata cenderung semakin meningkat.

Lalu apakah masalah terbesar remaja ? Masa remaja seringkali dipandang sebaga masa yang paling sulit dibandingkan dengan masa-masa kehidupan yang lain. Pada masa ini ada banyak penyesuaian yang harus dilakukan dalam menghadapi perubahan-perubahan yang dialaminya, serta untuk memenuhi tuntutan dari keluarga dan masyarakat. Masalah terbesar remaja dalam beberapa tahun terakhir ini adalah masalah misalnya tentang bagaimana remaja perempuan menolak hubungan seksual, pilihan perilaku seksual ( pegangan tangan, ciuman, saling menggesekkan alat kelamin / petting, bahkan sampai dengan berhubungan seks ). Masalah lain yang sering muncul adalah minimnya pengetahuan remja mengenai masalah seksualitas dan juga rendahnya akses remaja terhadap sumber informasi seksualitas yang benar dan bertanggung jawab.



Banyaknya persoalan seksualitas di kalangan remaja selain disebabkan oleh anggapan tabu tentang seks di masyarakat yang berakibat remaja kurang memiliki pengetahuan tentang masalah seksualitas yang benar, juga disebabkan karena tidak adanya dukungan dari sistem, berupa kebijakan dalam bidang kesehatan yang kurang mempertimbangkan kepentingan, kebutuhan dan partsipasi dari remaja.

Selama ini apabila kita berbicara mengenai seks maka yang terbersit dalam benak sebagian besar orang adalah hubungan seks, padahal seks itu artinya adalah jenis kelamin. Jenis kelamin ini membedakan laki-laki dan perempuan secara biologis, sedangkan seksualitas menyangkut : dimensi biologis, yaitu berkaitan dengan organ reproduksi, cara merawat kebersihan dan kesehatannya ; dimensi psikologis, di mana seksualitas berkaitan dengan identitas peran jenis, perasaan terhadap seksualitas dan bagaimana menjalankan fungsinya sebagai makhluk seksual ; dimensi sosial, berkaitan dengan bagaimana seksualitas muncul dalam relasi antar manusia serta bagaimana lingkungan berpengaruh dalam pembentukan pandangan mengenai seksualitas dan pilihan perilaku seks ; dan dimensi kultural, menunjukkan bahwa perilaku seks itu merupakan bagian dari budaya yang ada di masyarakat.

Sejauh manakah perilaku seks remaja saat ini ? Data konseling kehamilan remaja di Lentera Sahaja PKBI DIY mulai bulan Juni 1997 sampai dengan bulan Agustus 1997 menunjukkan 571 kasus kehamilan yang tidak diinginkan di kalangan remaja. Kehamilan ini terjadi dalam situasi yang berbeda-beda, misalnya dipaksa melakukan hubungan seks, baik oleh orang yang dikenal seperti pacar, teman , saudara, maupun oleh orang yang tidak dikenal ; petting ( hanya ada beberapa kasus ) ; hubungan seksyang kemudian dilakukan atas persetujuan kedua belah pihak ( dengan berbagai "janji / rayuan" dari pihak laki-laki ) tanpa memikirkan konsekuensinya secara mendalam ; kepercayaan terhadap mitos seputar kehamilan dan cara menghindarinya, misal minum minuman yang bersoda setalah berhubungan seks akan mencegah terjadinya kehamilan ; serta penghitungan masa subur yang meleset.

Apakah ada perbedaan persoalan seksualitas remaja laki-laki dan remaja perempuan ? Pada dasarnya masalah remaja yang berkaitan dengan seksalitas dialami oleh remaja laki-laki maupun perempuan, namun akibat negatifnya lebih banyak dialami oleh remaja perempuan, dengan kata lain seringkali remaja perempuan mejadi korban dari permasalah seksualitas ini. Dalam masyarakat ada anggapan bahwa perempuan haruslah menjaga keperawanan sehingga tidak sepantasnya perempuan itu menyalurkan dorongan seksualnya dengan hubungan seks, sedangkan bagi remaja laki-laki, tidak ada tuntutan semacam itu, bahkan remaja laki-laki yang telah berhubungan seks dianggap lebih berpengalaman dan mendapatkan nilai lebih di mata teman-temannya. Posisi tawar yang rendah pada remaja perempuan membuat mereka tidak mampu mengambil keputusan atas dirinya dan tubuhnya sendiri. Ketika remaja perempuan memilih atau melakukan hubungan seks karena terpaksa maka akibat negatif yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi, seperti kehamilan yang tidak diinginkan, penyakit menular seksual dan terinfeksi HIV/AIDS. Pada umumnya, jikalau terjadi KTD, remaja perempuan ini tidak tahu di mana tempat yang tepat untuk mengadukan masalah yang dihadapinya.

Untuk membantu remaja menyelesaikan masalahnya secara bertangung jawab, diperlukan keberpihakan terhadap remaja, yang muncul dalam bentuk pemahaman, empati dan dukungan kepada remaja. Salah satu bentuk kegiatan yang dapat membantu remaja dalam menyelesaikan masalah yang dihadapinya termasuk seksualitas adalah dengan melalui konseling. Mendapatkan informasi mengenai seksualitas merupakan hak semua orang termasuk remaja. Selama ini sarana-sarana yang dipakai remaja untuk memenuhi keingintahuannya tentang masalah seksualitas ini didapatkan dari berbagai sumber, buku-buku populer, diskusi dengan teman-temnnya, nonton film / video, dan lain sebagainya. Informasi seperti in seringkali tidak benar, penuh dengan mitos dan bias gender. Melalui konseling seksualitas, remaja akan memperoleh info yang benar, proporsional dan bertanggung jawab dari konselor yang bersangkutan. Remaja juga dapat berdiskusi dengan konselor mengenai problem seksualitas sehingga pada akhirnya remaja bisa memahami nilai pribadinya, sikap dan perilaku seksualnya, serta belajar untuk mengambil keputusan lebih lanjut. Dengan demikian, ketika remaja mempunyai masalah, dia akan mendapatkan dukungan dari orang yang bisa memahami keadaannya.

Seks tidak saru dan tabu tapi perlu !

Kutipan dari web untuk remaja iondonesia

Selanjutnya......

STAR TREK

STAR TREK





Pemain: Chris Pine, Zachary Quinto, Karl Urban, Zoe Saldana, Anton Yelchin, Eric Bana, Tyler Perry, Jennifer Morrison.


James Tiberius Kirk (Chris Pine) dan Spock (Zachary Quinto) adalah dua karakter yang berseberangan. Kirk adalah pemuda dengan jiwa pemberontak sementara Spock tak pernah melakukan hal yang tak logis namun takdir mempertemukan mereka berdua dan bahkan keduanya menjadi sahabat sekaligus tim yang sangat solid.


Kirk yang sejak lahir telah ditinggal mati oleh ayahnya tumbuh menjadi pemuda liar sampai akhirnya ia bertemu Kapten Christopher Pike (Bruce Greenwood) yang menyarankan Kirk untuk bergabung dalam akademi Starfleet dan melanjutkan jejak ayahnya sebagai seorang kapten pesawat angkasa luar. Merasa tertantang, Kirk pun memutuskan untuk bergabung dengan Starfleet. Di akademi inilah ia kemudian bertemu dengan Leonard McCoy (Karl Urban) yang lantas menjadi sahabat baik Kirk.


Suatu ketika, Starfleet menerima pesan darurat dari planet Vulcan dan segera saja beberapa armada pesawat ruang angkasa dikirim untuk memberikan bantuan. Kirk yang diskors tak boleh bergabung namun dengan bantuan McCoy, Kirk berhasil masuk ke dalam pesawat USS Enterprise. Saat mendekat Vulcan, Kirk baru sadar bahwa semua itu jebakan dan ia berusaha meyakinkan kapten Pike bahwa yang terjadi adalah serangan terhadap planet Vulcan.


Dalam serangan itu Kapten Pike disandera oleh Kapten Nero (Eric Bana) sementara seluruh planet Vulcan musnah termasuk ibu Spock yang gagal diselamatkan. Kirk pun lantas terlibat perseteruan dengan Spock yang menjabat sebagai kapten kapal menggantikan Pike. Perseteruan ini membuat Spock terpaksa membuang Kirk dari USS Enterprise. Terdampar di Delta Vega, Kirk akhirnya malah menemukan satu pencerahan yang akan menjadi kunci penyelamatan bumi dari dendam Kapten Nero.

Bermain-main dengan sebuah franchise yang sudah lama berakar seperti STAR TREK atau STAR WARS memang selalu beresiko tinggi. Bila tak berhasil 'menangkap' jiwa dari kisah aslinya, maka fans setia akan berpaling sementara bila tak mampu menampilkan sesuatu yang fresh maka penonton yang asing dengan franchise pun gagal dirangkul. Untungnya dua hal tersebut tak terjadi pada kasus STAR TREK ini.


Keputusan J. J. Abrams, sang sutradara, untuk mengambil masa-masa awal dari tim yang identik dengan persahabatan Kirk dan Spock ini memang strategi yang jitu lantaran tak akan terlalu terikat pada image yang dibawa oleh William Shatner dan Leonard Nimoy yang memerankan karakter Kirk dan Spock. Di sisi lain ide ini juga memberi 'ruang' buat menangkap para calon fans baru.



Chris Pine dan Zachary Quinto yang memegang peran kunci dalam film ini berhasil mereplika karakter Kirk dan Spock dengan baik tanpa harus mengekor Shatner dan Nimoy. Begitu juga dengan para pemain lain yang bermain cukup natural dan mampu mewakili jiwa dari franchise STAR TREK, dunia yang diperkenalkan oleh Gene Roddenberry di tahun 1966 lalu.

Semua bagian termasuk seragam awak kapal hingga USS Enterprise sendiri disuguhkan oleh J.J. Abrams dengan baik, tetap menangkap 'roh' dari STAR TREK tanpa kelihatan kuno. Tapi yang jadi masalah adalah ide itu sudah lewat 43 tahun dan sedikit terasa aneh melihat 'penjabaran' alam semesta dan teknologi dari sisi yang dilihat orang hampir setengah abad yang lalu. Jangan berharap ada logika karena film ini memang fiksi ilmiah, sama seperti 43 tahun yang lalu.


Selanjutnya......

TRANSFORMERS: REVENGE OF THE FALLEN',

'TRANSFORMERS: REVENGE OF THE FALLEN',






Pemain: Shia LaBeouf, Megan Fox, Josh Duhamel, Tyrese Gibson, John Turturro

Sam Witwicky (Shia LaBeouf) mungkin tak mengira bakal terjebak dalam peperangan antara Autobots dan Decepticon. Namun ia tak bisa mengelak karena takdir membawanya menjadi sahabat para Autobots yang kehilangan planet mereka akibat keserakahan para Decepticon. Setelah kematian Megatron, Sam tak mengira bahwa peperangan masih akan berlanjut.


Starscream (Charlie Adler) yang berhasil mencapai Cybertron kemudian mengambil alih tampuk kepemimpinan dan memutuskan untuk kembali ke bumi untuk menyelesaikan masalah yang belum tuntas. Tubuh Megatron (Hugo Weaving) yang semula dikira sudah mati ternyata dapat dibangkitkan lagi dan kini Autobots yang memutuskan tinggal di bumi menghadapi masalah baru.

Megatron dan Starscream menginginkan para Autobots dan seluruh penghuni musnah dan mereka tak main-main soal yang satu ini. Sepasukan Decepticon dikirim ke bumi untuk tugas penghancuran ini. Mampukah Autobots membela diri sekaligus melindungi Sam dan seluruh penghuni bumi yang kini bergantung pada mereka?


Tak seperti pada bagian pertama yang dirilis tahun 2007, Hasbro sebagai pemilik nama Transformers memutuskan untuk lebih ikut campur dalam soal desain robot Transformers. Dana sebesar US$200 juta pun dikucurkan untuk memastikan bahwa film ini akan lebih bagus dari bagian pertamanya. Hasilnya, Michael Bay sanggup menggunakan pesawat F-16 dan tank sungguhan dalam proses syuting film ini.

Tim lama pun kembali direkrut agar sekuel ini lebih bisa membawa roh dari film pertama. Steve Jablonsky tetap memegang posisi komposer sementara Linkin Park juga ikut menyumbangkan satu lagu untuk film ini. Para pemeran lama pun tetap dipertahankan, mengingat film ini benar-benar adalah kelanjutan dari film pertama.

Secara keseluruhan, sajian visual film ini memang memuaskan. Tak heran juga jika mengingat dana yang telah dikeluarkan untuk memproduksi film ini. Jumlah robot jelas jauh lebih banyak dengan tampilan yang benar-benar terlihat hidup. Itu semua jelas tak lepas dari campur tangan Scott Farrar, sang visual effects supervisor, yang juga menggarap film pertamanya.



Meski para robot itu adalah hasil permainan animasi komputer, namun di tangan Ben Seresin, hasil syuting dan animasi itu berhasil disatukan tanpa ada cacat yang terlihat. Fokus Michael Bay, sang sutradara, kali ini sepertinya adalah membuat tontonan yang benar-benar memanjakan mata dan itu terlihat dari semakin banyaknya aksi laga yang di sisi lain juga mengurangi kuantitas pamer akting para pendukungnya.

Secara umum, Shia LaBeouf dan Megan Fox cukup mampu membawakan peran mereka walaupun hasilnya tak akan membuahkan piala Oscar buat mereka. Kebanyakan kritikus film pun membantai habis-habisan film ini karena dianggap tak sebanding dengan film pertamanya dulu. Namun terlepas dari semua kritik itu, pihak studio sepertinya masih optimis dapat mengeruk banyak keuntungan, terbukti dengan rencana sekuel yang sudah mereka umumkan bahkan sebelum pembuatan film ini selesai.




Selanjutnya......

Rabu, 24 Juni 2009

'STREET FIGHTER: THE LEGEND OF CHUN-LI

STREET FIGHTER: THE LEGEND OF CHUN-LI




KPemain: Kristin Kreuk, Neal McDonough, Chris Klein, Michael Clarke Duncan, Taboo, Robin Shou, Moon Bloodgood


Chun-Li (Kristin Kreuk) sebenarnya tak pernah bercita-cita menjadi seorang petarung. Ia tumbuh dalam sebuah keluarga bahagia bersama kedua orang tuanya. Chun-Li ingin suatu saat nanti ia bisa menjadi seorang pianis dalam sebuah orkestra. Sayangnya, tak semua cita-cita dapat terpenuhi.



Xiang (Edmund Chen), ayah Chun-Li harus pindah ke Hong Kong dan ini menjadi awal yang menentukan masa depan Chun-Li. Suatu hari, Xiang didatangi Bison (Neal McDonough) yang memaksa Xiang bekerja untuknya. Meski berusaha melawan, namun Xiang bukanlah tandingan Bison dan anak buahnya. Dengan harapan bisa menyelamatkan keluarganya, Xiang kemudian mengikuti kemauan Bison.

Bertahun kemudian, Chun-Li mendapat sebuah kiriman berisi sebuah manuskrip yang ditulis dalam huruf China kuno. Chun-Li yang merasa tak lagi memiliki siapa-siap sejak meninggalnya ibunya kemudian memutuskan berangkat ke Bangkok atas saran seorang wanita tua yang mengatakan bahwa ia harus menemukan pria bernama Gen (Robin Shou) setibanya di Bangkok nanti.




Ternyata keberangkatan Chun-Li ke Bangkok ini menjadi sebuah petualangan berbahaya yang ada sangkut pautnya dengan Bison dan hilangnya Xiang, ayahnya. Masalahnya, Bison dikelilingi banyak tukang pukul yang tak bisa disingkirkan dengan mudah. Untungnya, Chun-Li tak sendiri. Ada Gen dan dua detektif yang juga berusaha membekuk Bison yang memang terlibat serangkaian tindakan kejahatan.

Sepanjang sejarah dunia perfilman, game adalah salah satu sumber cerita yang sering kali diangkat ke layar lebar selain novel dan komik. Tak sedikit game yang sudah diangkat ke layar lebar termasuk Street Fighter. Beberapa mendapat pujian dari para fans game dan film sementara yang lain malah dicaci maki oleh penggemar versi game-nya. Tapi terlepas dari ketaatan pada sumber aslinya, film adalah sebuah media seni yang layak dinilai secara terpisah.



Saat STREET FIGHTER: THE LEGEND OF CHUN-LI ini dilepas tanpa proses screening oleh para kritikus, muncul dugaan bahwa film ini tak terlalu berkualitas. Biasanya orang film memang skip proses yang satu ini untuk menghindari jatuhnya performa film di pasar. Dan dalam kasus STREET FIGHTER: THE LEGEND OF CHUN-LI ini sepertinya keputusan itu beralasan.

Alur cerita film ini cenderung datar dan mudah ditebak. Tak ada twist yang membuat penonton menebak-nebak akhir dari cerita. Yang ada hanyalah alur sederhana tentang kisah balas dendam yang sebenarnya sudah mulai basi. Di sisi lain, akting para pemainnya juga tergolong pas-pasan dan tak ada karakter yang benar-benar terlihat hidup. Ini memang tak mengherankan karena film laga seperti ini biasanya hanya mengunggulkan visual saja.



Celakanya, dari sisi visual pun tak banyak yang bisa diunggulkan. Koreografi tarung terkesan biasa-biasa saja sementara visual effect yang digunakan juga tak terlalu memukau. Barangkali yang cukup menjadi hiburan justru adalah lokasi syuting di Bangkok yang sedikit jadi pelepas lelah saat penonton mulai bosan dengan pemandangan dunia Barat yang memonopoli kebanyakan film.




Selanjutnya......

G.I. JOE: THE RISE OF COBRA

'G.I. JOE: THE RISE OF COBRA



Pemain: Channing Tatum, Christopher Eccleston, Sienna Miller, Dennis Quaid, Ray Park, Rachel Nichols, Marlon Wayans, Joseph Gordon-Levitt, Lee Byung Heon


Film G.I. JOE: THE RISE OF COBRA dibuat berdasar franchise mainan anak-anak G.I. Joe: A Real American Hero yang diproduksi oleh Hasbro antara tahun 1982 dan tahun 1994. Dalam versi toy-nya, ada sekitar 500 karakter dan sekitar 250 kendaraan yang dirilis ke pasar dan film ini mencoba memberikan visualisasi dari para karakter inti yang muncul pada jajaran mainan ini.


Dalam film ini dikisahkan awal mula terbentuknya tim G.I. Joe yang beranggotakan Conrad Hauser / Duke (Channing Tatum), General Clayton Abernathy / Hawk (Dennis Quaid), Shana M. O'Hara / Scarlett (Rachel Nichols), Wallace Weems / Ripcord (Marlon Wayans), Snake-Eyes (Ray Park), Lamont A. Morris / Heavy Duty (Adewale Akinnuoye-Agbaje), Abel Shaz / Breaker (Saïd Taghmaoui) dan Courtney A. Kreiger / Cover Girl (Karolína Kurková).



Tim ini harus berjuang mati-matian melawan kelompok kejahatan yang menamakan diri mereka Cobra Organization. Kelompok yang dipimpin oleh Cobra Commander (Joseph Gordon-Levitt) ini berencana menguasai dunia dengan cara menebar teror dan penderitaan. Berbagai lokasi terkenal seperti Arctic, Paris, Moscow, Washington, D.C., Australia dan the Sahara pun akan menjadi lokasi pengambilan gambar dari film yang akan dirilis bulan Agustus nanti ini. (kpl/roc)

Selanjutnya......

Selasa, 23 Juni 2009

TERMINATOR SALVATION'

'TERMINATOR SALVATION'

Pemain: James Cameron, Gale Anne Hurd, Christian Bale, Sam Worthington, Anton Yelchin, Bryce Dallas Howard, Moon Bloodgood, Common, Helena Bonham Carter






John Connor (Christian Bale) adalah manusia yang ditakdirkan untuk memimpin sisa-sisa manusia yang memberontak terhadap Skynet dan pasukan Terminator-nya. John bersama para kaum Resistance kemudian merencanakan untuk menghancurkan Skynet dalam usaha mengembalikan manusia sebagai pemimpin di muka bumi.


Dalam persiapan penghancuran Skynet inilah kemudian muncul seorang pria bernama Marcus Wright. Marcus kehilangan ingatannya dan tak tahu dari mana ia berasal. Yang ada dalam ingatannya hanyalah saat dirinya berada dalam eksekusi. Sebenarnya Marcus adalah manusia yang telah diubah menjadi robot setelah ia sendiri dieksekusi satu tahun sebelumnya.


Di saat yang hampir bersamaan dengan rencana kaum Resistance untuk meruntuhkan Skynet, para robot ternyata juga punya rencana untuk membunuh para pemimpin Resistance. Nama John Connor ada dalam daftar Skynet namun John tak mengerti kenapa nama Kyle Reese (Anton Yelchin) juga ada dalam daftar eksekusi tersebut. Menurut John, Kyle terlalu muda untuk dianggap sebagai ancaman buat Skynet.


Hanya gara-gara Christian Bale menolak peran utama dan bersikeras hanya mau memerankan karakter John Connor maka naskah film yang sudah jadi terpaksa harus disusun ulang. Untungnya kerja keras ini tak terlalu buruk karena tak terlihat kesan bahwa Bale hanya sekedar 'tempelan' dalam film ini. Namun kabarnya McG, sang sutradara harus memangkas sekitar 40 menit durasi film sebelum akhirnya TERMINATOR SALVATION bisa disajikan sebagai sebuah tontonan.

Pemotongan ini bisa dimaksudkan sebagai 'penyesuaian' namun bisa juga dilihat sebagai pertanda ketidakpuasan sang sutradara pada hasil akhir syuting. Yang jelas pada beberapa bagian memang terlihat bahwa ritme film secara keseluruhan sepertinya tak tertata rapi. Ini diperburuk lagi dengan beberapa special effect yang berkesan cheap. Tapi secara keseluruhan dari keempat film TERMINATOR yang satu ini lebih berkesan kelam.


Soal akting, nama Christian Bale mungkin tak perlu lagi diragukan apalagi setelah menonton akting Bale dalam THE DARK KNIGHT. Tapi ada satu fakta menarik yang terjadi pada dua film ini. Seperti juga pada THE DARK KNIGHT, Bale dalam film ini kembali kecolongan. Meski namanya dipasang paling atas namun justru Sam Worthington dan Anton Yelchin yang terlihat lebih bersinar.

Selanjutnya......

Kamis, 04 Juni 2009

As I Lay Dying



As I Lay Dying


As I Lay Dying adalah band metalcore asal San Diego California. Band yang memiliki gaya bermusik yang cukup unik ini menggabungkan musik metal yang berbasis pada riff riff melodius ala Gothenburg Sound , seperti In Flames dan At The Gates dengan komposisi ringan ala musik Punk sehingga mudah dicerna dan disimak bahkan oleh para pendengar musik rock/metal yang terhitung baru mendengar lagu lagu dari mereka. Nama band ini berasal dari novel William Faulkner yang dicetak sekitar tahun 1930’an berjudul As I Lay Dying yang menceritakan kehidupan keluarga petani Amerika yang religius.Band ini kini digawangi oleh Tim Lambesis,sebagai vokalis,dan leader dari band ini, kemudian drummer muda enerjik dan sangat berbakat Jordan Mancino. Dual shredder yang memperkuat dari sisi riff gitar, Nick Hipa dan Phil Sgrosso . Nick Hipa merupakan gitaris yang cukup menonjol dengan karakter sound yang berbeda dengan musik metalcore kebanyakan, karena boleh dibilang ‘terlalu melodius’ dan kurang tebal distorsinya, dan justru hal itu menambah karakter dari pattern2x lead gitar dari Nick, sementara karakter sound distorsi yang tebal dilapis oleh Phil yang memang memiliki background lebih kuat dibandingkan Nick .Sementara Josh Gilbert membantu Tim Lambesis sebagai clean vocalist dan juga bertanggung jawab sebagai pencabik bas.

As I Lay Dying merupakan band yang cukup terkenal di scene metal dunia karena meraih beberapa prestasi . Salah satu yang cukup fenomenal adalah dengan dinominasikan-nya lagu Nothing Left dalam ajang Grammy Awards di tahun 2008. Di tahun ini juga band ini dianugrahi penghargaan San Diego Music Award. Di tahun sebelumnya band ini memenangkan penghargaan Ultimate Metal God dari saluran TV musik terkenal di dunia MTV2 .

Band ini seringkali dicap sebagai band yang cukup religius, karena lirik lirik positifnya yang tergolong berbeda dengan band lain. Bila band lain banyak mengumbar kekerasan, kegelapan, realita social, band ini justru mengangkat tema religius dan unsure spiritual positif dalam lagu-lagu mereka. Hal ini sempat membuat mereka digelari band metal spiritual. / white metal ,hal ini tercermin lewat rilisan mereka mulai dari Beneath The Encoding of Ashes, yang dirilis di tahun 2001 sampai pada album Shadows are Security yang dirilis tahun 2005. Tim Lambesis seperti vokalis dan penulis lirik dari band ini mulai bereksperimen dengan lirik yang bertema sosial di album terakhir mereka “ An ocean between us “ yang dirilis tahun 2007 lalu, justru menambah greget dan karakter dari band ini, lirik yang tidak preachy tapi mengajak ke sisi positif tergambar disini . Seiring dengan sambutan positif dari berbagai kritikus musik metal diseluruh dunia, juga band ini beberapa kali tampil dalam sampler majalah Metal Hammer sepanjang tahun 2007, tercatat penulis memiliki 2 edisi Metal Hammer yang memuat mengenai band ini. Bahkan album An Ocean .. ini berhasil menduduki peringkat Billboard 200 no.8 dan no 1 di bagian rock chart , sebuah prestasi yang cukup membanggakan bagi sebuah band yang masih terhitung masih baru diblantika musik rock/metal dunia. Tak salah bila Adam Dukiewicz , gitaris dari band KSE (Killswitch Engage) yang bisa dikatakan pelopor dari genre Metalcore ini memproduseri album An Ocean … dan tak lupa juga Andy Sneap sang maestro “modern sound of metal “ bertugas mengemas sound di album ini sehingga tampil lebih baik di banding album sebelumnya, Shadows are Security.




Biography

Band ini dibentuk tahun 2000 oleh Tim Lambesis ,Noise Ratchet dan Eli Bowser sebagai trio yang membuat komposisi musik dengan aliran musik dipengaruhi oleh seperti Papa Roach, Zao, Mower dan band band modern metal lainnya yang banyak mengambil arah dari musik beraliran punk dan Nu metal yang berjaya pada masa itu. Band ini hanya berumur beberapa bulan karena sempat bubar karena Tim Lambesis bergabung dengan band Texas bernama Society Finest bersama Eli Bowser, sedangkan Jon Jameson bergabung dengan band Noise Hatchet. Selama 4 bulan hiatus kemudian di awal tahun 2001 , Tim Lambesis kembali ke San Diego dan menghidupkan kembali As I Lay Dying dengan merekrut personel baru Evan White dari Nothing to Lose, Jordan Mancinoyang baru saja keluar dari band Edge of Mortality dan Noah Chase dari xXxFingerpointxXx.. Tim membuat konsep dari AILD berbeda dengan musik sebelumnya semasa masih trio, Quartet AILD ini mencoba membuat musik dengan sound lebih berat, kasar dan riff gitar lebih ke arah musik Hardcore.seperti Vision of Disorder dan Hatebreed.



Hasilnya bisa dilihat di album Beneath the Encasing Machine yang diproduseri oleh Tim Lambesis pribadi dan dirilis oleh label kecil di San Diego bernama Pluto Records. Album ini berhasil menjadi album dengan rekor penjualan yang cukup fantastis dari label kecil ini. Memang kalau disimak album ini secara konsep musikalitas dan kekuatan dalam menulis lagu tidak sehebat album An ocean … namun dari album inilah kita bisa melihat dan menyimak proses evolusi dari As I Lay Dying. Data penjualan album yang baik dari label kecil ini akhirnya mentrigger dirilisnya album split dengan band sekota, American Tragedy, sebuah band heavy metal.

Karena seringnya bergonta ganti personel di awal kemunculan mereka, akhirnya Tim dan Jordan merekrut teman dekat mereka. Hal inilah yang membuat Tim dan Jordan ekstensif melakukan pengganti yang sevisi untuk mengisi kekosongan posisi di AILD seiring dengan popularitas dan jadwal tour yang padat. Tercatat pada awal kemunculan mereka, mereka telah melakukan tour bersama Poison the Well, In Flames, Hatebreed, Shai-Hulud, Zao, American Nightmare, Bane, From Autumn to Ashes, Sick of it All, Snapcase, Dillinger Escape Plan, Evergreen Terrace, Hopesfall, Nora, 7 Angels 7 Plagues, Twelve Tribes, Fall Silent, Curl Up And Die, Stretch Armstrong, Papa Roach, No Innocent Victim, Page 99, Living Sacrifice, The Deadlines, Embodyment, Travail, The Deal, Figure Four, Officer Negative, Norma Jean, Spitfire, Dogwood, Between the Buried and Me, 18 Visions, Bleeding Through, Spoken, Soul Embrace, Point of Recognition, Every Time I Die, Unearth, Andrew W.K., Throwdown, Underoath, Boy Sets Fire dan banyak band lagi.

Di awal tahun 2003 kontrak As I Lay Dying dengan Pluto Records berakhir dan sebenarnya AILD sudah diincar oleh Trustkill Records sejak album awal.AILD ditawari kontrak yang cukup menggiurkan oleh label ini. Tapi untuk kepentingan masa depan yang lebih baik, Tim dan Jordan akhirnya memilih Metal Blade records dengan konsekuensi album pertama lewat label ini, AILD masih self producing. Alasan utama AILD memilih label Metal Blade adalah dukungan dari pemilik label Pluto Records yang merekomendasikan Metal Blade karena label ini memiliki perhatian dan konsep marketing lebih baik dibandingkan Trustkill. Tim Lambesis bahkan menegaskan bahwa pilihan ini lebih dipertimbangkan bahwa dengan keputusan bergabung dengan Metal Blade ini karena Metal Blade adalah label yang memilki komitmen pada artis dan juga scene metal, tidak asal menjual dari band tapi memperhatikan kualitas dari produk yang mereka jual,sehingga mendorong AILD untuk berkarya lebih baik dari sebelumnya.

Di bulan Juli 2003, Frail Words Collapse dirilis dengan hasil yang jauh berbeda di bandingkan dengan album sebelumnya. Album ini terdengar lebih matang dengan arahan konsep musik yang lebih baik dari sebelumnya. Lagu single mereka seperti 94 hours dan Forever menjadi pilihan banyak orang di radio musik di internet dan menjadi top request selama beberapa minggu di acara MTV2 Headbanger’s ball. Bahkan di minggu awal dirilisnya album ini, menduduki peringkat 30 dari Top Independent album dan no.41 di Top Heatseekers sehingga kritisi musik terkenal seperti William York dari Allmusic.com mengomentari band ini “doesn’t really add anything new to the mix from a musical standpoint” with the release, although praised it for being “solid enough and well executed, and the production is adequate.” Dukungan dari label juga diterima oleh band ini sehingga mendongkrak popularitas dari AILD sehinga mereka mengadakan tour kembali bersama Himsa, Shadows Fall, The Black Dahlia Murder, Killswitch Engage, In Flames, Sworn Enemy juga salah satu pujaan mereka, Hatebreed.

Namun sayang, setelah dirilis album ini, As I Lay Dying kehilangan dua gitaris karena padatnya jadwal tur yang sangat melelahkan , sehingga kadang melakukan seleksi dan audisi untuk mencari personel tetap, tercatat Bassist Noah Chase meninggalkan band ini di tahun 2001dan penggantinya Aaron Kennedy keluar di tahun 2003. Gitaris Evan White keluar di tahun 2003 juga gitaris berbakat Jason Krebs di tahun yang sama. Mereka menemukan pengganti yang tak kalah hebat nya , amunisi AILD semakin kuat ketika mereka menemukan Phil Sgrosso dan Nick Hipa. Duet gitaris inilah yang kemudian mengisi album berikutnya Shadows are Security yang direkam di studio Big Fish di musim semi tahun 2005.

Album yang bisa disebut sebagai major breakthrough dari As I Lay Dying ini terjual sekitar 275.000 CD dan langsung menduduki peringkat 1 dari Top Independent album pada minggu pertama dirilisnya album ini. Lagu Through Struggle yang merupakan single terlaris dari album ini bahkan menjadi top request di berbagai radio metal online dan juga sempat mengisi kompilasi sampler dari ulang tahun ke 20 dari Label mereka Metal Blade records. Kontribusi sound engineering dari Andy Sneap mulai juga terdengar di album ini, yang membuat karakter sound yang lebih lugas, garang dan kadang bisa terdengar lembut dari lead gitar Nick Hipa bisa kita smika di album ini. Bahkan Rod Smith dari Decibel Magazine mengomentari album ini “finely honed roar in bittersweet instrumental matrices augmented by occasional clean vocals by bassist Clint Norris. Guitarists Phil Sgrosso and Nick Hipa whip up a melodic cyclone on ‘The Darkest Nights’.

As I Lay Dying mulai melakukan tour untuk mempromosikan album ini dimulai dari tour di beberapa metalfest tercatat di Hell on Earth, Winter Headline Tour, Ozzfest dan tour yang sangat padat bersama Slipknot dan Unearth. Band ini pernah menolak dimainkan di panggung utama Ozzfest dengan bayaran USD 75.000 karena Tim merasa bahwa band ini belum pantas untuk tampil sebagai headliner. Tercatat selama musim panas 2005 sampai akhir tahun 2006 , band ini malang melintang melakukan tour bersama Rob Zombie, Killswitch engage, Mastodon, The Haunted, Deftones, Thrice, Dredg, Funeral for a Friend, Story of the Year. Dan penampilan mereka ditutup di festival musik Sounds of the Underground Festival

Di bulan Mei 2006, album Beneath the Encasing of Ashes dan lagu lagu dari split album dengan band American Tragedy dirilis ulang oleh Metal Blade Records dengan judul A Long March : The First Recordings, karena Tim Lambesis geram melihat 2 album awal mereka dijual amat mahal di situs lelang online Ebay seharga lebih dari USD 90.

Selanjutnya......
 

Dark Hitman v.1.0 use By Me | Design by Mochal | Copyright 2008